DIFTERI (Pesan Untuk Para Ibu yang Sayang pada Anaknya)

Akhir-akhir ini telingaku sering disentil dengan kata-kata “difteri”, baik itu dari media informasi seperti televisi, radio, maupun percakapan orang-orang disekitarku, apalagi saya tinggal di dekat salah satu pusat pengobatan masyarakat yang ada di surabaya yang membuat kata-kata “difteri” dengan mudahnya menancap di otakku. Tapi tunggu dulu! Aku nggak tau makanan apa itu difteri??? Maka dari itu aku searching-searching-lah tentang seluk beluk difteri di mbah google dan gini hasilnya!

Jadi, difteri itu adalah infeksi selaput lendir pada bagian hidung dan tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini dapat dengan mudah menular pada orang lain melalui batuk dan bersin. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi yang sangat serius seperti masalah pernapasan, kerusakan jantung, kerusakan saraf, pendarahan, dan gagal ginjal (pada difteri hipertoksik), hingga berujung kematian. Hal ini dapat terjadi karena bakteri tersebut membentuk selaput putih ke abu-abuanyang tebal pada tenggorokan sehingga dapat menutupi saluran pernapasan. Selain itu, bakteri Corynebacterium diphtheriae juga mengeluarkan racun yang jika racun tersebut masuk ke dalam paru-paru atau jantung akan dapat menyebabkan peradangan.

Berdasarkan informasi yang dikeluarkan oleh pemerintah yang diliput Tribunnews.com, hingga desember 2017 wabah difteri sudah menjangkiti 142 kabupaten/ kota di 28 provinsi dengan jumlah korban meninggal sebanyak 38 orang, dan korban yang dirawat sebanyak 600 pasien. Menurut lansiran alodokter.com, pada tahun 2016 World Health Organization (WHO) mencatat terdapat 7.097 kasus difteri di dunia dengan 342 kasus berasal dari Indonesia. sejak tahun 2011 hingga 2016 telah tercatat 3.353 kasus difteri di Indonesia fluktuasi jumlah penderita yang naik turun setiap tahunnya. Hal tersebut membuat Indonesia berada pada posisi kedua di dunia dengan kasus difteri terbanyak.

Lalu kenapa hal ini bisa mewabah hingga kemana-mana? Salah satu faktor penyebabnya adalah masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap imunisasi DPT pada anak-anak mereka dengan dalil yang beragam seperti:

  1. efek buruk imunisasi,
  2. keraguan terhadap kehallalan bahan vaksin,
  3. anggapan bahwa sistem imun telah terbentuk sejak lahir, hingga
  4. tidak bisa move on pada kasus vaksin palsu yang pernah merebak beberapa bulan yang lalu.

Sebenarnya semua alasan tersebut telah memiliki jawaban yang valid baik dari pemeritah, mui, hingga medis. Hanya saja masyarakat masih enggan untuk membuka dan mengupdate wawasannya dan tidak mau mencari jawaban yang konkrit.

Jadi untuk anda para ibu-ibu yang sayang pada anaknya tapi belum membekali anaknya dengan imunisasi DPT, apakah anda masih ingin menutup telinga anda rapat-rapat dan tidak mau membuka cakrawala informasi tervalidasi, serta menelan mentah-mentah informasi yang tidak jelas kebenarannya mengenai imunisasi dan difteri, sehingga anda membiarkan anak kesayangan anda berada dalam bayang-bayang bakteri difteri atau yang lainnya? Bukankah mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati?

Sumber:

www.alodokter.com/difteri

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171208035427-255-260967/10-hal-yang-patut-diketahui-seputar-wabah-difteri

http://www.tribunnews.com/kesehatan/2017/12/28/ganasnya-difteri-sepanjang-2017-kasusnya-terbesar-di-dunia

Advertisements

Author: choia6

young visual communication designer who have different taste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s