Pengalaman Keluar dari Zona Aman

DSC_2271

 

Bagi sebagian orang yang seusia dengan saya, berpetualang seorang diri di waktu remaja adalah hal yang biasa bagi mereka, terutama bagi laki-laki. Namun dengan kondisi saya yang dari kecil selalu diperlakukan bak seorang pangeran suatu kerajaan yang selalu dimanja, berpetualang seorang diri di kota orang merupakan suatu tonggak sejarah yang sangat berarti pada kala itu. Kisah tersebut terjadi pada akhir tahun 2015 lalu saat saya baru memasuki dunia perkuliahan.

Pada saat itu liburan semester ganjil akan segera tiba dan saya beserta ketiga teman saya berencana untuk berlibur bersama di Yogyakarta. Tiket kereta api pun telah kami dapatkan setelah pergi ke stasiun Gubeng Surabaya untuk membeli tiket secara offline, walaupun pada akhirnya kami membeli secara online melalui minimarket yang masih berada di area stasiun Gubeng dikarenakan loket sudah tutup.

Setelah beberapa hari pembelian tiket tersebut, salah satu teman saya yang pada awalnya sangat berantusias dan sudah berpengalaman plesiran seorang diri kemana-kaman tiba-tiba memberikan kabar bahwa dia membatalkan liburan kita dikarenakan alasan izin orang tua. Sontak pernyaaan dia membuat kedua teman saya yang lain dengan perlahan mengurungkan niat mereka pula. Namun karena saya tidak mau rencana yang telah saya buat jauh-jauh hari tersebut gagal, akhirnya saya tetap pada pendirian saya untuk melajutkan liburan tersebut walau seorang diri. Pada saat itu saya juga ingat dengan perkataan salah satu dosen saya bahwa saya tidak bisa selamanya berada dalam zona nyaman saya. Saya harus berani berpergian jauh tanpa didampingi keluarga. Hal tersebutlah yang juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan saya bersikukuh untuk tetap berangkat ke Yogyakarta seorang diri.

Hari keberangkatan pun telah tiba. Pada saat itu jarum jam menunjukkan hampir pukul 10 pagi dan saya sudah memasuki gerbong kereta api. Saat itu orang tua saya hanya mengetahui kalau saya berangkat dengan rombongan dari kampus saya, bukan seorang diri. Saya duduk di samping perempuan yang akan turun di stasiun Nganjuk. Di depan kami ada dua orang yang ternyata juga berniat untuk libuan di Yogyakarta. Kami pun mengobrol tentang rencana kami kami masing-masing. Salah satu dari mereka mengajak saya untuk join agar biaya sewa hotelnya lebih murah. Pada awalnya saya menolak tawaran tersebut hingga kami hampir berpisah setelah turun di stasiun Lempuyangan. Namun setelah dipikir-pikir memang lebih baik saya join dengan mereka. Pada akhirnya saya join dengan mereka.

Sore itu setelah kelar dari stasiun Lempuyangan kami berjalan menuju jalan tersohor di kota gudeg tersebut. Yup! Jl. Malioboro. Kami menyusuri jalan disekitar Jl. Malioboro tersebut untuk mencari penginapan yang murah untuk kami bertiga. Akhirnya kami mendapatkan penginapan yang sesuai walaupun terletak di gang sempit, namun sangat dekat sekali dengan Jl. Malioboro. Kami pun membayar penginapan tersebut untuk tiga hari dua malam kedepan dan dkami menyewa motor juga.

Setelah istirahat sejenak, kami langsung cabut untuk mencari makan malam dan jalan-jalan di sekitar Jl. Malioboro. Ketika kami hendak kembali ke penginapan, salah satu dari mereka mengajak kami untuk mampir dulu ke minimarket untuk membeli beberapa makanan ringan dan minuman. Dikarenakan persediaan uang saya menipis, saya memutuskan untuk mengambil uang di atm yang ada pada pojok minimarket tersebut. Insiden tak tertuga pun terjadi. Kartu atm saya tertelan pada mesin tersebut dan uang yang akan saya tarik juga tidak keluar. Yang lebih menggemaskan adalah perkataan salah satu kasir dari minimarket tersebut mengatakan bahwa pada mesin tersebut memang sering terjadi kasus kartu atm tertelan setelah kartu atm saya tertelan. Sebenarnya ini juga salah saya. Saya salah melakukan prosedur penarikannya sehingga kartu atm tersebut pada akhirnya tertelan. Memang pada masa itu saya masih baru memiliki kartu atm, jadi saya juga kurang mengerti cara mengoperasikan mesin atm dengan benar. Saya dan kedua teman saya pun bingung pada saat itu. Saya berusaha untuk menelpon call center bank tersebut untuk melakukan pemblokiran sesaat namun saya tidak hafal dengan nomor rekening saya.

Keesokan harinya, kedua teman saya tersebut pergi ke candi Borobudur. Sedangkan saya pergi ke kantor cabang bank saya untuk melaporkan kasus semalam. Beberapa menit kemudian dengan bantuan gps akhirnya saya tiba di kantor cabang terdekat walau sebelumnya saya salah masuk ke kantor utama yang dimana tidak digunakan untuk melayani pelanggan mereka. Customer service bank tersebut melayani saya dengan baik dan membantu proses pemblokiran sementara kartu atm saya. Namun sialnya, kartu atm saya tidak dapat dibuatkan ulang di sana dikarenakan saya menggunakan layanan tabungan offline sehingga saya hanya bisa membuat kartu atm saya hanya di tempat dimana saya mendaftarkan diri. Namun, setidaknya saya sedikit lega karena kartu atm saya sudah di blokir walaupun dengan sisa uang saya yang sudah menipis dan jadwal kepulangan saya masih esok hari.

Setelah saya selesai mengurus kartu atm saya yang membuat pusing itu, saya menuju stasiun Lempuyangan untuk melakukan cetak tiket kereta saya. Pada saat itu pencetakan tiket masih dapat dilakukan 48 jam sebelum jadwal keberangkatan. Di stasiun tersebut proses pencetakan tiket saya berjalan dengan lancar.  Setelah melakukan pencetakan tiket tersebut saya bingung harus kemana. Saya tidak mugkin ke Magelang untuk menyusul kedua teman baru saya tersebut dikarekanan uang saya sudah menipis dan hari masih pagi. Akhirnya saya pergi menuju alun-alun kidul. Kata orang, disana tempatnya sangat menarik, sehingga membuat saya tertarik untuk mengunjunginya. Beberapa menit kemudian saya sampai di alun-alun kidul. Disana saya hanya berputar mengelilingi alun-alun tersebut dan berhenti di salah satu pojokan untuk beristirahat. Ternyata saya salah timing. Di pagi hingga siang hari alun-alun tersebut saya hanya melihat anak-anak sekolah yang sedang berolahraga. Saya pun berusaha searching-searching untuk mencari destinasi wisata yang dekat dengan lokasi saya dan terjangkau. Pilihan saya pun jatuh pada Pantai Goa Cemara. Hanya sekitar 1-2 jam berkendara dari empat saya berada. Saya pun langsung cabut menuju pantai tersebut dengan mengandalkan gps.

Beberapa saat kemudian saya tiba di pantai tersebut. Di sana terdapat banyak sekali pohon cemara dan satu yang tidak membuat saya menyesal karena telah mengunjungi pantai tersebut adalah kondisi pantai tersebut sepi. Hanya ada beberapa orang saja sehingga tempat tersebut sangat cocok digunakan untuk menyendiri. Saya menyusuri berbagai sudut pantai tersebut selama beberapa jam dan kemdian saya kembali ke penginapan kami di Yogyakarta.

Singkat cerita, saat ini saya telah berada di semester 6 dan di salah satu mata kuliah saya pada semester ini ada tugas yang mewajibkan mahasiswanya untuk menggali salah satu kearifan lokal di Indonesia dan mengoptimalkan potensinya guna membantu pembangunan negeri ini berbasis pariwisata. Salah satu calon desinasi yang kelompok saya ajukan adalah Pantai Goa Cemara yang pernah saya kunjungi tersebut.

Tidak ada salahnya jika kita keluar dari zona nyaman kita, asalkan kita masih ada pada koridor. Dunia itu sangat luas. Selagi masih bisa, kenapa tidak? Kita tidak perlu takut akan hal apapun. Kita hanya boleh takut pada Allah SWT. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada diri kita, bahkan sedetik kedepan. Jodoh, rejeki, dan maut kita sudah di atur oleh Allah SWT.

Advertisements

Author: choia6

young visual communication designer who have different taste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s