Semiotika

Semiotika berasal dari bahasa Yunani “Semeion” yang memiliki arti “tanda”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Semiotika merupakan ilmu (teori) tentang lambang dan tanda (dalam bahasa, lalu lintas, kode morse, dan sebagainya). Jadi, dapat disimpulkan bahwa semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Konsep mengenai tanda adalah dimana suatu makna timbul akibat adanya korelasi antara sesuatu yang ditandai dengan sesuatu yang menandai yang bersifat asosiasi.

Charles Sanders Pierce

Menurut C. S. Pierce, tanda, acuan, dan penggunaannya merupakan tiga titik segitiga yang saling berkaitan. Tanda A menunjukkan suatu fakta (dari objek B), kepada penafsirnya yaitu C. Sehingga, tanda bukanlah entitas yang berdir sendiri namun tersusun dari tiga elemen tersebut. Menurut Pierce, unsur A adalah tanda itu sendiri, unsur B merupakan objek, dan unsur C adalah penafsir yang berperan sebagai pengantar.

Menurut Pierce, tanda ”is something which stands to somebody for something in some respect or capacity”. Artinya, sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi disebut ground oleh Pierce. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan triadik, yakni ground, object dan interpretand. Atas dasar hubungan ini, Pierce mengadakan klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan ground baginya menjadi qualisign, sinsign dan lesign. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kata-kata kasar, keras, lemah, lembut, merdu. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda; misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai keruh yang menandakan bahwa ada hujan di hulu sungai. Lesign adalah noma yang dikandung oleh tanda, misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia (Sobur, 2003:41). Pierce membagi tanda menjadi tipe-tipe : ikon, indeks dan simbol.

Claude Levi-Strauss

Menurut Strauss, material yang digunakan dalam membangun bahasa pada dasarnya adalah material yang sama tipe/jenisnya dengan material yang membentuk kebudayaan. Material itu, adalah relasi-relasi logis, oposisi,korelasi, dan sebagainya. Menurut Ahimsa Putra (2001), Levi-Strauss mengemukakan beberapa asumsi yang mendasari penggunaan paradigma (linguistik) struktural dalam menganalisis kebudayaan.

Pertama, beberapa aktivitas sosial seperti mitos/dongeng, ritual-ritual, sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, dansebagainya, secara formal dapat dilihat sebagai bahasa, yakni sebagai tanda dan simbol yang menyampaikan pesan tertentu. Ada keteraturan (order) 

dan keterulangan (regularities) dalam fenomena-fenomenatersebut.

Kedua, kaum strukturalis percaya bahwa dalam diri manusia secara genetis terdapat kemampuan

structuring , menyusun suatu struktur tertentu di hadapan gejala-gejala yang dihadapinya. Gejala-gejala itu mungkin membentuk suatu struktur yang disebut struktur permukaan (surface structure). Tugas seorang strukturalis adalah menyingkap struktur dalam (deep structure) 

dari struktur permukaan tersebut.

Ketiga, sebagaimana makna sebuah kata ditentukan oleh relasi-relasinya dengan kata-kata lain pada suatu titik waktu tertentu (sinkronis) , para strukturalis percaya bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena lain pada suatu titik waktu tertentulah yang menentukan makna fenomena tersebut.

Keempat, relasi-relasi pada struktur dalam (deep structure)  dapat diekstrak dan disederhanakan menjadi oposisi biner (binary opposition), misalnya

menikah >< tidak menikah

siang >< malam

hitam ><putih

besar >< kecil

dan sebagainya.

Kelima , sebagaimana orang menerapkan hukum-hukum bahasa tanpa sadar, demikian pula orang menjalankan “hukum-hukum” dalam hidup sosial-kemasyarakatan tanpa sadar.

Roland Barthes

Menurut Barthes, walaupun tanda adalah sifat asli namun tanda membutuhkan keaktifan pembaca agar sifat dari tanda tersebut dapat berfungsi. Bagi dia, semiotika tidak hanya memiliki makna denotatif saja, namun juga memiliki makna konotatif yang dimana makna ini memiliki pengaruh yang lebih besar. Tanda konotatif tidak hanya memiliki makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Semiotika bertujuan untuk memahami sistem tanda  dengan berbagai substansi dan limit, sehingga seluruh fenomena dapat ditafsirkan sebagai tanda.

Umberto Eco

Menurut Eco, proses semiosis menjadi landasan dari cara kerja semiotika, sehingga tanpa proses semiosissemiotika tidak akan pernah ada. Semiosis menjadi dasar dari semiotika karena dapat menuntun para pembaca tanda untuk menentukan arah kebenaran yang lebih rasional. Eco menyimbulkan bahwa “satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapat ditawar, melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda yakni ungkapan dan isi, dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean”.

Derrida

Teori dekonstruksi Derrida muncul sebagai kritik terhadap teori Susserian. Saussure merumuskan teorinya melalui adanya oposisi biner (2 hal yang berlawanan) seperti langueparole, ucapan- tulisan, ada-tidak ada, murni-tercemar, yang mana yang pertama sifatnya lebih menguasai yang kedua alias yang pertama ini lebih superior sedangkan yang kedua cenderung inferior sehingga seolah-olah yang pertama memiliki hak istimewa sementara yang kedua dilecehkan. Bangunan metafisika Saussure, menurut Derrida, yang diberikan pada tuturan (ucapan) adalah dengan menjadikan suara  sebagai metafor kebenaran dan autentisitas, sumber dari tuturan yang “langsung” dan hadir pada dirinya sendiri sebagai lawan dari limpahan sumber tersebut yang tak hidup dan sekunder, yakni tulisan. Bagi Derrida, teori oposisi Biner Saussure justru akan berujung pada penolakan terhadap kebenaran tunggal atau logos (pengetahuan) itu sendiri. Sebaliknya, cara yang ditawarkan Derrida untuk menemukan makna yang tersembunyi adalah dengan membuka selubung, kemudian melihat isi secara terpisah, dan membuang seluruh relasi yang ada antara kata dan konsep.

 

Sources:

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/semiotika

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/16803/?sequence=4

http://www.academia.edu/1045086/S_E_M_I_O_T_I_K_A_TENTANG_MEMBACA_TANDA-TANDA

https://hidrosita.wordpress.com/2013/12/14/sekilas-mengenai-dekonstruksi-derrida/

Advertisements

Author: choia6

young visual communication designer who have different taste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s